Terapi Rukyah Syar’iyyah
Sering kali kita mendengar terapi pengobatan ruqyah namun pengertian yang terlintas di benak kita adalah terapi untuk mengusir gangguan jin.
Hal ini adalah pendapat keliru dan salah kaprah di kalangan masyarakat saat ini.
Padahal, ruqyah yang sesuai syar’i adalah sunnah Rosululloh SAW. Yang di syari’atkan untuk di lakukan bagi setiap muslim pertama kali saat dirinya merasa sakit. Baik sakit fisik maupun karena gangguan jin.
Apa itu Ruqyah?
Ruqyah (dengan huruf ro’ yang di dhommah) adalah yaitu bacaan untuk pengobatan syar’i. Berdasarkan riwayat yang shohih atau sesuai ketentuan ketentuan yang telah di sepakati oleh para ulama. Untuk melindungi diri dan untuk mengobati orang sakit.
Bacaan ruqyah berupa ayat ayat al-Qur’an dan doa-doa yang telah di ajarkan oleh Rosululloh SAW.
Tidak di ragukan lagi, bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW berupa ruqyah. Merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna bagi penyakit hati dan fisik. Dan bagi penyakit dunia dan akhirat.
Bagaimana mungkin penyakit itu mampu melawan firman-firman Robb bumi dan langit. Yang jika firman-firman itu turun ke gunung, maka ia akan memporak-porandakan gunung-gunung.
Oleh karena itu tidak ada satu penyakit hati maupun penyakit fisik melainkan ada penyembuhnya.
Alloh SWT berfirman dalam al-Qur’an Surat Fushshilat ayat 44:
قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌۗ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman, (QS. Fushshilat: 44)
Dan di surah Al-Isro’ ayat 82,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ
Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman. (QS. al-Isyro’: 82)
Dan di surat Yunus ayat 57,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ٥٧
Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu. Penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin. (QS. Yunus: 57)
Sejarah Rukyah
Pada masa jahiliyah, telah di kenal pengobatan ruqyah. Namun ruqyah kala itu banyak mengandung kesyirikan.
Misalnya menyandarkan diri kepada sesuatu selain Alloh, percaya kepada jin, meyakini kesembuhan dari benda-benda tertentu, dan lainnya.
Setelah Islam datang, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyah kecuali yang tidak mengandung kesyirikan.
‘Auf bin Malik rodhiallohu ‘anhu berkata, “Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya, ‘Wahai Rosululloh, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’ Beliau menjawab, ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik’.”(HR. Muslim no. 2200).
Al-Qurthubi rohimahullohu berkata, “Hadits menunjukkan bahwa hukum asal seluruh ruqyah adalah dilarang. Sebagaimana yang tampak dari ucapannya: ‘Rosululloh SAW melarang dari segala ruqyah.’
Larangan terhadap segala ruqyah itu berlaku secara mutlak. Karena di masa jahiliyyah mereka meruqyah dengan ruqyah-ruqyah yang syirik dan tidak bisa di pahami maknanya.
Mereka meyakini bahwa ruqyah-ruqyah itu berpengaruh dengan sendirinya.
Ketika mereka masuk Islam dan hilang dari diri mereka yang demikian itu. Nabi SAW melarang mereka dari ruqyah secara umum agar lebih mantap larangannya dan lebih menutup jalan (menuju syirik).
Selanjutnya ketika mereka bertanya dan mengabarkan kepada beliau. Bahwa mereka mendapat manfaat dengan ruqyah-ruqyah itu, beliau memberi keringanan sebagiannya bagi mereka.
Beliau bersabda, ‘Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah selama tidak mengandung syirik’.
Mencegah Lebih Baik dari Mengobati
Saudariku, sesungguhnya syari’at Islam telah sempurna sehingga tidak ada hal melainkan sudah ada keterangannya dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.
Karena itu, Alloh telah mengabarkan apa apa yang baik bagi seorang hamba dan apa apa yang mesti di tinggalkan dengan segala hikmah yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.
Di antara apa yang di ajarkan Rosululloh SAW yaitu berdzikir mengingat Alloh dalam setiap keadaan.
Dzikir pagi dan petang hari, ketika hendak tidur, ketika masuk dan keluar rumah, saat memakai baju, dan lainnya hingga tidur lagi.
Jika kita selalu menjaga dzikir-dzikir ini pada waktunya, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat, mencegah segala keburukan, mendatangkan berbagai manfaat dan menolak datangnya bahaya.
Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Jika Alloh akan memberi kunci kepada seorang hamba, berarti Alloh akan membukakan (pintu kebaikan) kepadanya. Dan jika seseorang di sesatkan Alloh, berarti ia akan tetap berada di muka pintu tersebut.”
Bila seseorang tidak di bukakan hatinya untuk berdoa dan berdzikir. Maka, hatinya selalu bimbang, perasaannya gundah gulana, pikiran kalut, gelisah hasrat dan keinginannya menjadi lemah.
Namun bila seorang hamba selalu berdoa dan berdzikir memohon perlindungan kepada Alloh dari berbagai keburukan. Niscaya hatinya menjadi tenang karena ingat kepada Alloh.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Alloh hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ro’d: 28)
Doa dan dzikir yang di laksanakan seharusnya adalah doa dan dzikir yang ada tuntunannya dari Rosululloh.
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata. “Dzikir yang paling baik dan paling bermanfaat adalah doa dan dzikir yang di yakini dengan hati, di ucapkan dengan lisan, di laksanakan dengan konsisten. Dan dzikir yang di contohkan dari Rosululloh SAW serta orang yang melakukannya memahami makna dan maksud yang terkandung di dalamnya.”
Penutup
Seorang muslim seharusnya menjaga diri semaksimal mungkin dengan hal-hal yang telah di syari’atkan Alloh Ta’ala. Yaitu menjaga Alloh Ta’ala dengan benar-benar mengikhlaskan diri dalam mentauhidkan-Nya, senantiasa bertaqwa, senantiasa berpegang teguh kepada sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, menjauhi bid’ah dan menyelisihi pada pengikut hawa nafsu.
Pada artikel selanjutnya insya Alloh akan kami jelaskan tentang tahap-tahap meruqyah, insya Alloh.
Sumber:
- Ummu Mu’aadz
- Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
- Doa dan Wirid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz
- Doa doa Ruqyah, Dr. Khalid bin Abdurrahman al-Jarisi

